Yesterday
Wake up in the morning as usual. Go to work with full of heart. So yesterday suddenly is not as usual as it is. I opened a website of vacancy job. There was something that I really want to apply there. It was a Journalist Development Program at one of TV station in Indonesia. My seniors and friend are journalists there. I want to be like them. Not because of them, but it must be really challenge to have job like that. And yesterday was the last day of walk in interview to be a journalist in there. So I went in a rush to make it not pass than 2 p.m (it was 11 a.m). But I just have IDR 50 thousands in my pocket, and don’t know how far was the interview location was. It was really hot out there. The traffic and the sun is really cooperative to kill every people’s mood and boiled anger up. I ran to my friends place to borrow her t-shirt and heels, also got my hair straight with her magical straightener. Everything was ready. I arrived at 1 p.m and didn’t feel any piques about traffic and heat at all. Maybe I was really nervous. I always feel nervous when about something that I really want. I got interviewed by HR , and then cam-tested. While doing cam-tested, I was a mess. If there were my friends beside me, I think I’m gonna cry out loud, saying ‘why am I so stupid !?!?! That was not good!!’ oh God.. The lady there said that if I am good enough to be a journalist there, I will got texted from them to have psycho-test on the next day, which is today. All night long, I was waiting the text sent to me, but it didn’t show up. Frankly, I am sad now that I don’t get the next test or interview to be something I want. But maybe, the time is yet to come or God wants to give me something more that I need. Certainly, now my feeling is that having no any regrets because at least I tried. Just let God do the rest.
tulisan singkat mengenai dunia baru
Aku mau menulis cerita pake bahasa indonesia.
karena aku orang indonesia. #halah
September 2011 kemarin gue lulus dari kuliah. jurusan HI dari Universitas Katolik Parahyangan. setelah pusing mengerjakan skripsi yang sebenarnya ga begitu memusingkan, langsung bingung mau kerja dimana. gue bukan tipe orang yang sangat amat menata masa depan ini mau dibawa kemana. beberapa temen gue udah bikin timeline-nya sendiri abis kuliah mau ngapain. S2 dulu kah, nikah dulu kah, punya anak dulu kah, ato langsung kerja. no, i just let the wind blows. ga baik sih hidup yang kaya gitu. yeah. mau gimana dong. gue kerja hayoo, nikah hayoo, punya anak juga hayoo..!!
tapi ternyata anginnya niup ke pekerjaan. sekarang gue udah kerja di salah satu International Non-Government Organization (biar keren harus pake ‘international’) jadi asisten manager yang ngurus admin dan finance. terkadang juga ngurus jadwal manager yang padat, dan desain banner/poster. mau nanya, kerjaan gue enak apa ga? enaknya kerjaan gue, kalo manager gue lagi keluar kota, gue agak sedikit bisa lebih santai (salah satunya nulis blog ini), ga enaknya ya berhadapan dengan finance thing which i hate it so much! awalnya gue ngeapply jd admin dan finance karena gue bisa belajar dulu tentang dunia finance. ternyata ooh ternyata, kalo emang ga ada hati ke situ, kerjaannya jadi lama.hehe..but still i have to do it because this is my responsibility now.
gue baru hampir 2 bulan kerja di sini. lingkungannya enak, orang-orangnya asik dan ramah. banyak hal baru yang gue kenal di dunia kerja. semenjak kerja, ngomongin soal uang bener-bener hal yang penting. gabisa kaya jaman kuliah dulu, hari ini yaudahlah yaa foya-foya, ntar akhir bulan ngutang sana sini gampang. beuh! andaikan masih bisa semudah itu. sekarang mau minta duit ke orang tua aja ga enaknya setengah mati. pasti kita yang udah kerja udah gamau ngerepotin orang tua lagi. udah cukuplah minta duit mulu selama kurang lebih 22 tahun ini. waktunya sekarang kita yang ngasih duit / hadiah ke orang tua kita. mau gaji sebesar atau sekecil apapun, mesti disisihin buat orang tua. yaah itu ntar buat traktir orang tua ato mungkin beli kado pas mereka ulang tahun. so many things that i want to give to them. makanya, kalo kerja jangan mengeluh. biar suatu hari nanti, uang kita bakal numpuk terus dan bisa jadi orang kaya. kalo targetnya jadi orang kaya, kan bisa ngebantuin banyak orang, apalagi keluarga. (i’m talking to myself right now) :D
dunia kerja juga beda banget sama dunia kuliah dari sudut pandang pertemanan. pas jaman kuliah, kita kenalan bisa langsung cerita semuanya tentang diri dan hidup kita. kalo sekarang, sebenernya masih bisa ke beberapa orang, tapi itu juga ga terlalu terbuka kayak dulu. gatau karena faktor apa, tapi yang jelas, temen di kantor ga bisa sedeket temen di kampus/sma/smp/sd/les. lo mungkin udah tau pola ini, ya tapi gue pengen tetep nulis aja.
well, gue cuma mau cerita singkat tentang ini aja. i have to go back to my work. see ya’..
You are what you are, not what you wear, eat or have.
Perhaps there are some of you not agree about statement above. They might say “we are what we wear” or “we are what we eat”, or “we are what we have”. If you realize it, these quotes not really mean that you are clothes (or called fashion), you are junk food, or you are an iPad. But yes, our mind might say that we are an iPad so we are rich, we are Prada so we are fashionable, or we are vegetarian so we are health. This is not that I mean in “we”.
Let me get you my point. If you think that you are what you wear, then you’re gonna change everyday. If you think that you are what you eat, then you’re a shit. Because after we eat, we ‘flush’ right?. If you think that you are what you have, that means you are always available on market. It’ll make you want to be judged by your cover only. People can’t see truly who you are. Whereas we want people judge us not from our cover, right?
So my point is you actually are WHAT YOU ARE. You are your personality. Those things that makes you more beautiful, thinner, fatter, cooler are just complementary or called additional in your life. You are what your personality is. What I mean is, when we are getting older, we want to change our life, so change your habit to make your personality better. You don’t have to change your blackberry into the most expensive edition ever, you don’t have to travel the world, you don’t have to be a vegetarian also. So we can make our life better.
You can do whatever you like, or whatever you want. But still, do not over the line.
– elpauliProfesor terbaik dalam hidupku.
Beliau adalah orang yang paling pintar yang pernah ku kenal.
Beliau adalah orang yang paling sabar yang pernah ku kenal.
Beliau juga adalah orang yang paling jail yang pernah ku kenal.
Beliau adalah Professor Bob Sugeng Hadiwinata, yang sekarang sedang terbaring di rumah sakit di salah satu rumah sakit di Jerman.
Selama kuliah di Unpar, aku selalu mengambil mata kuliah pilihan bahasa inggris di kelasnya.
Mas Bob (begitu sapaan akrabnya di kampus), pernah mengerjai mahasiswa dan mahasiswi pada april mop untuk mengadakan kuis dadakan.
Yah, memang begitulah orang yang pintar. Hehee…
Aku menyukai bidang bahasan yang diajari oleh mas Bob, oleh karena itu aku mengambil bahasan untuk tugas akhir ku yang sesuai dengan bahasan tersebut.
Mas bob membimbing aku sejak semester 7 untuk memulai skripsi ini dengan diawali dari seminar (3sks).
Seminar ialah waktu kita sebagai mahasiswa unpar untuk menyusun konsep konsep dasar (bab I) dalam skripsi. Ia sangat membantuku pada saat menyusun konsep dasar tersebut.
Aku melewatinya dengan sukses, Puji Tuhan.
Lalu di semester 8, aku mulai menyusun bab 2, 3, 4, dan 5.
Sejujurnya, untuk menyelesaikan bab bab ini tidak lah begitu sulit. Yang Lebih sulit adalah mengumpulkan rasa niat yang tinggi untuk menyelesaikannya.
Pada bulan bulan awal semester 8, aku tidak rajin mengerjakan skripsi ku. Hanya menambah sedikit-sedikit pada bab 2.
Lalu setelah selesai mengerjakan bab 2, aku mendatangi mas Bob, dan dengan pedenya aku mengatakan bahwa aku juga sudah menyelesaikan bab 3, dan ingin lebih fokus ke bab 4. Aku sudah berjanji untuk mendatangi mas Bob untuk memberikan bab 2 dan 3 setelah 2 minggu dari hari itu, dan ingin langsung memberikan draft kasar bab 4.
2 minggu kemudian..
Belum ada hasil.
2 bulan kemudian..
Masih belum ada hasil.
Setiap bertemu mas Bob, aku berusaha menghindar karena takut ditagih.
Hingga pada akhirnya, aku secara tidak sengaja bertemu mas Bob. Lalu beliau menatap aku, dengan menggunakan 2 jari damai (telunjuk dan tengah) dan kemudian memeragakan gaya memantau dengan mengarahkan ke arah kedua matanya lalu kedua mataku.
Lalu keesokan harinya, aku bertemu lagi (secara tidak sengaja). Dan beliau berkata: “bab 4 mu mana, babeth? Bab 4 dari hongkong!”
NYESS…lemes seketika rasanya digituin sama dosen pembimbing.
Dia juga bilang kalo dia tadinya mau ke kantor polisi, hanya untuk melaporkan orang hilang. (maksudnya adalah aku yang hilang, karena ga pernah bimbingan)
Saat itu aku hanya bisa membalas dengan jawaban : “ iya mas, ini lagi saya kerjain.(boong) Tenang aja mas, saya gak males2an kok. (boong!) Pokoknya, saya akan mengembalikan kepercayaan mas bob lagi!!(gak boong)”
Ya, saat itu aku merasa sudah mengecewakan mas bob. Tidak mudah untuk mendapatkan pembimbing yang satu2nya adalah seorang profesor di jurusan kami. Dan aku menyia-nyiakan hal itu. Aku merasa bersalah, sampai memimpikan bahwa mas bob sudah mencoret namaku di dalam list murid bimbingannya, dan dalam mimpiku, mukanya marah. Aku takut di dalam kenyataannya bahwa beliau tidak ingin menerimaku lagi untuk bimbingan. (panik!)

(pict above: mas bob with one of the most lovely student he had :P)
Setelah menyadari semua itu, aku langsung merajinkan diri untuk menyelesaikan skripsi ku.
Pada saat bab 4 ku sudah hampir selesai, mas Bob masuk rumah sakit. Aku sedih sekaligus panik. Apakah dia masih bisa membimbingku?—> pemikiran egois ku. Padahal dia lagi sakit, tapi yang kupikirkan hanyalah skripsi ku. Untungnya aku langsung sadar yang pertama kali harus kupikirkan adalah kesehatan orang hebat ini yang sedang terbaring di rumah sakit. Ia bahkan sulit untuk bangkit dari tempat tidurnya sendiri. Aku menjenguknya di rumah sakit boromeus bandung.
Saat itu dia berkata: “ Saya mau minta tolong. Tolong doakan saya supaya saya sembuh. Saya meminta kamu yang beragama kristen, buddha, hindu, maupun muslim untuk mendoakan saya.”
Aku tertegun. Aku tidak tega melihat mas Bob dalam keadaan tanpa daya seperti ini.
Pulang dari rumah sakit, aku menelfon Ayahku. Menceritakan semuanya. Entah kenapa, aku yang jarang sekali nangis kepada Ayahku, kali ini aku bercerita sambil menangis. Di satu sisi aku menangis karena keadaan mas bob. Di satu sisi, aku menangis karena menyia-nyiakan waktu yang ada ketika dia sedang sehat. aku akan semakin jarang bimbingan, karena Ia akan semakin jarang ke kampus setelah pulang dari rumah sakit nanti, padahal dalam waktu dekat ini Ia akan berangkat ke Jerman untuk melakukan salah satu project besar di sana. Deadline ku sangat mepet.
Mau tak mau, sanggup tak sanggup, aku harus sering2 ke rumah mas bob untuk minta bimbingan setelah Ia pulang dari rumah sakit.
Aku ingat sekali, pada terakhir kali aku bimbingan di rumah nya, Ia mengatakan kepadaku dan beberapa teman baikku yang mengantarkan ku ke rumahnya (thank’s a lot guys..):
“Kamu percaya Tuhan, kan? Kalo begitu berdoalah kepada Dia. Jangan pernah ragukan kekuatan DOA.”
Sekejap aku langsung tersentuh dari kata2 yang diberikan oleh profesor yang umurnya masih lebih muda sedikit dari Ayahku.
Hingga pada detik terakhir sebelum aku dinyatakan lulus, Ia membimbing ku dengan kepintarannya, dengan kesabarannya, dan dengan jailnya. Dan sekarang aku menjadi seorang sarjana ilmu politik.
Setelah sidang skripsi ku, Ia langsung berangkat ke Jerman. Dan ternyata, belum hingga satu minggu di sana, Ia ternyata harus masuk rumah sakit lagi karena kondisi nya semakin melemah. Teman baikku yang ikut ke Jerman dan merawat mas Bob di sana mengatakan bahwa mas bob saat itu merasakan kematian hampir menjemputnya, dan saat itu Ia lemas sekali sangat tidak berdaya.
Beliau sakit parah.
Aku hanya bisa berdoa.
Karena Ia mengajarkan ku untuk tidak pernah meragukan kekuatan Doa.
Aku harus selalu mendoakannya.
Ia mengajarkan banyak nilai-nilai penting dalam hidupku.
Beliau masih mau membimbing muridnya yang malas ini hingga detik terakhir aku mencapai kelulusanku.
Cepet sembuh , mas bob. Mas bob harus kuat.
Thank You, Jesus. You gave me the best Professor i’ve never had in my life.
Pray For Professor Bob Sugeng Hadiwinata.
lagu anak jalanan
hari yang menguras waktu, tenaga dan pikiran.
di saat ada waktu untuk beristirahat, aku mengamen untuk menyemangati diri sendiri ke salah satu teman.
ini lagunya
kami anak jalanan
cari uang untuk makan
jangan ragukan kami
kami bukan pencuri
kami cari uang halal
ditambah nada gitar yang membuat semakin semangat
tertawa lepas bebas
lagu ini membuat terngiang terus-menerus hingga di jalan pulang


